PKBM Griya Cendekia, bekerja sama dengan
Kopi Ki Onder untuk Pengembangan Life-skill
Mulai tahun ajaran 2025-2026, PKBM Griya Cendekia akan bekerja sama dengan Kopi Ki Onder dalam pengembangan life skill peserta didik. Kopi Ki Onder adalah industri kopi rumahan dalam binaan UMKM bergerak dalam produksi kopi robusta priangan timur, yang memberi akses para distributor dan retailer kopi, baik green bean, roasted coffee, dan kopi bubuk dengan harga murah dan kualitas terjaga. Life skill (kecakapan hidup) pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Griya Cendekia adalah serangkaian keterampilan praktis yang dirancang untuk membekali warga belajar agar mampu hidup mandiri, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja dan masyarakat. Dalam program pendidikan kesetaraan dan non-formal, life skill pada umumnya dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Kecakapan Personal (Personal Skill), Adalah kecakapan kesadaran diri (self-awareness): Memahami potensi, kelemahan, dan tujuan hidup.Kecakapan berpikir rasional (thinking skill): Kemampuan menggali dan menemukan informasi, berpikir kritis, serta memecahkan masalah (problem solving),
- Kecakapan Sosial (Social Skill), Adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif, bekerja sama dalam tim (kolaborasi), dan menjalin hubungan interpersonal yang baik. Kepekaan sosial seperti empati dan toleransi,
- Kecakapan Akademik (Academic Skill) Adalah kemampuan berpikir ilmiah, seperti merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan suatu karya atau penelitian secara logis,
- Kecakapan Vokasional (Vocational Skill), adalah keterampilan spesifik atau kejuruan yang langsung dapat diaplikasikan untuk bekerja atau berwirausaha (membuka lapangan kerja). Contohnya yang dilakukan PKBM Griya Cendekia adalah keterampilan pengelolaan KOPI.
Pengembangan life skill dalam bentuk kecakapan vokasional (Vocational Skill) PKBM Griya Cendekia bertujuan mengentaskan masalah putus sekolah sekaligus memberdayakan masyarakat. Oleh karena itu, life skill dalam bentuk pembekalan keterampilan pengelolaan kopi diberikan agar peserta didik tidak hanya mendapatkan ijazah (melalui program Paket A, B, atau C), tetapi juga memiliki bekal kemandirian ekonomi dan daya adaptasi yang tinggi untuk menghadapi tantangan dunia nyata. Dan keterampilan pengelolaan kopi merupakan salah satu modal penting yang harus ditanamkan kepada peserta didik di PKBM Griya Cendekia untuk mewujudkan kemandirian ekonomi peserta didik. Materi pembekalan meliputi proses pengelolaan kopi, mulai dari panen, pasca panen, proses fermentasi, proses hulling, sortasi, roasting, grinding, sampai pada pengemasan, dan marketing. Pembekalan akan dipandu oleh Owner Kopi Ki Onder, H. Susari, beserta tim fasilitator.
Tes Kemampuan Akademik (TKA) di PKBM Griya Cendekia yang dilaksanakan pada bulan Mei 2026 adalah instrumen asesmen terstandar dari pemerintah yang dirancang untuk mengukur capaian dan potensi belajar siswa pada pendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan C). Tes ini memastikan kualitas lulusan PKBM setara secara objektif dengan sekolah formal.
Tujuan dan Fungsi Tes Kemampuan Akademik PKBM Griya Cendekia adalah:
- Menjamin Kesetaraan: Membantu mengukur capaian akademik murid secara terstandar agar diakui setara dengan siswa SD, SMP, dan SMA formal.
- Umpan Balik Akademik: Menjadi alat evaluasi proses belajar agar siswa mengetahui peta kemampuannya (sebagai dasar remedial atau pengayaan) sebelum menyelesaikan pendidikan.
- Persyaratan Seleksi: Nilai TKA menjadi data valid dan objektif yang dapat digunakan untuk proses seleksi lanjutan maupun pendaftaran ke jenjang pendidikan berikutnya.
Materi yang diujikan dalam TKA secara umum mencakup mata pelajaran dasar sesuai jenjang. Untuk tingkat akhir (seperti persiapan lulusan Paket C), materi biasanya dibagi menjadi kelompok:
- TKA Saintek: Meliputi mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika.
- TKA Soshum: Meliputi mata pelajaran Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.
- Kemampuan Dasar: Mengukur potensi penalaran siswa seperti kemampuan verbal, numerik, dan pemecahan masalah.

ADAPTASI KEBIASAAN BARU (AKB)
PKBM Griya Cendekia melakukan antisipasi menghadapi pandemi Covid-19 dalam praktik penyelenggaraan pendidikan kesetaraan atau sekolah paket, dengan mempersiapkan untuk memperkuat adaptasi kebiasaan baru yaitu: melakukan social distancing, tidak bersalaman, cuci tangan pakai sabun, dan menggunakan hand sanitizer, serta protokol kesehatan lain yang dipandang perlu.
Dalam konteks pembelajaran, dihindari melakukan pembelajaran klasikal yang mengumpukan banyak orang pada suatu atau satu tempat tertentu. Oleh karena itu, kebijakan penerapan pembelajaran PKBM Griya Cendekia dimasa New Normal Pandemi Covid-19 akan dilakukan secara online menggunakan aplikasi antara lain:
- Zoom meeting
- Google Classroom
- Group Whatapps
- Penugasan terstruktur melalui email
- Membuat produk sesuai tema pembelajaran
- Pendekatan lain secara daring
Dengan model pembelajaran tersebut, substansi pembelajaran akan tercapai secara maksimal tanpa harus bertemu atau berkumpul secara klasikal.
TTD
DR. H. Susari, M.A.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
MEMBANGUN EMPATI DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Oleh: DR. H. Susari, M.A.
Ketua Umum Yayasan Griya Cendekia Cileungsi Bogor
Covid-19 mulai hangat dibicarakan setidaknya sekitar pekan kedua Januari 2020 setelah diumumkan tiga orang di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut dan dinyatakan tewas. Dalam dua pekan kemudian Covid-19 telah menyebar ke 18 negara. Pada 30 Januari 2020 WHO menyatakan darurat global. Kini, Covid-19 telah menyebar ke lebih dari 200 negara dengan jumlah orang terinfeksi menembus satu setengah juta orang. Di Indonesia, orang yang terinfeksi Covid-19 menembus angka 3.500 tersebar di 34 provinsi dengan sebaran kasus terbanyak terdapat di pulau Jawa.
Dalam menghadapi pandemik global Covid-19, masyarakat dunia saling bahu-membahu dan saling bantu dalam melawan virus. Sebutlah Jepang. Meskipun hubungannya dengan China kurang harmonis akibat luka masa lalu, telah mengirim satu juta masker sebelum mengevakuasi warganya di Wuhan. Pesawat yang akan mengevakuasi warga Jepang di Wuhan, penuh peralatan medis dan masker untuk membantu warga Kota Wuhan. Dari 264 warga Jepang yang dievakuasi terdapat 4 orang yang positif Covid-19. Oleh Tiongkok disarankan untuk berobat di China, namun Pemerintah Jepang tetap melakukan evakuasi atas pertimbangan ingin berbagi beban kesulitan dan tidak mau merepotkan Pemerintah China. Selain itu Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa bagi siapapun yang berada di Jepang terinfeksi Covid-19 tanpa pandang kewarganegaraan semua diobati dan biaya ditanggung Pemerintah Jepang. Sebuah empati yang patut diteladani.
Ditengah terror dan suasana batin mencekam akibat Covid-19, mucul peristiwa yang memilukan hati kita. Pemakaman jenazah terinfeksi Covid-19 ditolak warga. Dari perspektif nilai, bangsa Indonesia dikenal memiliki kearifan lokal yang sudah diakui oleh dunia internasional, orang Indonesia dikenal dengan keramahan dan kesopanannya. Dari perspektif agama, kewajiban orang hidup terhadap orang yang meninggal dunia adalah memandikan, mengkafankan, menshalatkan, dan menguburkan. Terhadap jenazah terinfeksi Covid-19, telah terbit Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 dan 18 Tahun 2020, dimana pengurusan jenazah (tajhiz al-jana’iz) terinfeksi Covid-19 harus sesuai protokol medis dan dilakukan oleh orang yang berwenang. Akan tetapi mengapa penolakan tersebut terjadi.
Empati adalah keadaan mental yang membuat orang merasa dirinya dalam keadaan, perasaan, atau pikiran yang sama dengan orang lain. Empati dapat juga diartikan sebagai kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan seseorang, lalu bertindak untuk membantunya. Dalam Islam, sesama orang beriman bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling mengokohkan, “kal bunyanin yasuddu ba’dhuhu ba’dhon” (HR. al-Bukhori). Perilaku empati dalam kehidupan sehari-hari diwujudkan dalam empat bentuk: 1) peka terhadap perasaan orang lain, 2) membayangkan seandainya aku adalah dia, 3) berlatih mengorbankan milik sendiri, dan 4) membahagiakan orang lain.
Dengan empat bentuk perilaku empati tersebut sudah sepantasnya tidak terjadi penolakan terhadap jenazah terinfeksi Covid-19. Karena duka yang dirasakan akibat kematian tersebut bukan saja duka bagi keluarga korban, tetapi duka bagi seluruh komponen bangsa. Membangun empati merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan karakter bangsa untuk mewujudkan visi Indonesia emas 2045. Semoga kita diberi kekuatan. Wallahu a’lam.
Kurikulum Paket yang digunakan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016, sebagaimana contoh dibawah adalah Kurikulum Paket A.
Kurikulum-2013-Pendidikan-Kesetaraan-Paket-A_1554896978Download
Pandemi Covid-19 tidak menghalangi PKBM Griya Cendekia dalam memberikan layanan pendidikan. Untuk mempersiapkan New Normal, telah disiapkan langkah-langkah sesuai protokol Kesehatan, yaitu social distancing, penggunaan hand sanitizer, dan sarana cuci tangan pakai sabun.
Pasca Pandemi Covid 19, PKBM Griya Cendekia melaksanakan pembelajaran dengan beberapa pendekatan:
- Pembelajaran tatap muka
- Pembelajaran tatap maya dengan menggunakan google classroom dan/atau zoom meeting premium
- Pembelajaran Mandiri
- Penugasan terstruktur
Pendekatan ini sangat penting untuk mempermudah layanan pendidikan dan memperluas akses tanpa mengurangi mutu hasil belajar. Dengan demikian diharapkan tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai standar kompetensi lulusan. (06052025)















